Beranda
Restoran
Supplier
Blog
DSC00333

Memanjakan Indera di KALA

Menghadirkan brand experience yang memanjakan segenap pancaindera menjadi kekuatan KALA Experience untuk tumbuh di tengah pandemi.

Oleh: Akib Aryou

Tersembunyi di balik tenang perkampungan utara Yogyakarta, sebuah restoran dengan siluet laiknya balai-balai joglo menyambut dengan ramah. KALA, demikian nama yang terpatri di gerbangnya, adalah jenama kuliner buah karya pasangan Ibnu Khamais dan Astrid Anisah. Restoran tersebut adalah cabang kedua dari bisnis yang mereka rintis di tengah pandemi.

Bagaimana KALA dapat bukan sekadar bertahan, melainkan juga berkembang di tengah pandemi? Kuncinya, bagi Ibnu dan Astrid, adalah menghadirkan brand experience yang menyentuh seluruh pancaindera.

Pengalaman yang Holistik

Kala diawali dengan sebuah premis sederhana: memberikan pengalaman bersantap yang holistik.

“Pengalaman pribadi, ketika mencari tempat ngopi, kebanyakan tidak menyajikan makanan yang proper,” tutur Astrid. Kerisauan ini ia rasakan sewaktu kuliah dahulu. Astrid menemukan bahwa kebanyakan restoran saat itu menawarkan menu yang singular—antara unggul di kopi atau makanan semata. Sehingga, Astrid harus berpindah tempat dari kafe ke resto apabila mengerjakan tugas melewati jam makan. “Akhirnya kami mencoba brainstorming, memangnya engga bisa, ya, deliver dua-duanya?”

Pertanyaan inilah yang kemudian mendorong Astrid dan Ibnu untuk menciptakan KALA. Jenama ini diperkenalkan dengan nama lengkap KALA Experience sesuai dengan mimpi keduanya untuk memberikan pengalaman yang memanjakan seluruh inderawi. “Kami ingin deliver experience to fulfill all of your senses,” jelas Astrid. “Mencium wangi yang enak, merasakan rasa makanan dan minuman yang enak, ambience dan musik yang enak.”

Fokus terhadap brand experience terwujud dengan baik dari segala persentuhan dengan pelanggan, mulai dari menu hingga arsistektur. Cabang pertama mereka, KALA Coffee & Society, dikonsep sebagai kafe yang mengakomodasi kebutuhan pelanggan dewasa muda akan tempat bekerja. Menu menyajikan baik makanan ringan maupun makanan berat sebagai pendamping kopi. “Pokoknya seharian di situ aman, deh,” tambah Astrid. “Mau meja pakai colokan, ruangan ber-AC atau ruang merokok, semua ada.”

Sedangkan cabang kedua, KALA Countryside, mengakomodasi pelanggan baru dari pasar family. Menyadari daya tarik aspek pariwisata bagi segmen ini, KALA Countryside dikonsep untuk menyuguhkan ruang bersantai di pinggir kota. Ini pula yang membuat Astrid dan Ibnu kukuh memberikan nuansa khas Yogyakarta dalam arsitektur yang mereka desain dibandingkan mengikuti tren arsitektur asing. “Misalnya kamu dari luar kota mau ke Jogja, pasti inginnya, ya, show aja ini Jogja,” jelas Astrid.

Hasilnya adalah adaptasi kontemporer terhadap struktur bangunan Joglo, dengan atap limasan tumpangsari yang khas, tetapi interior tetap mengetengahkan clean, open space yang menghadap ke bentangan sawah. Sebagai restoran, menu KALA Countryside lebih fokus ke makanan sambil menyuguhkan mocktails alih-alih racikan kopi untuk menemani santap keluarga.

Berkembang Bersama Pasar

Tumbuh dari sebuah kafe mungil ke restoran yang lebih luas, banyak yang tidak akan mengira bahwa KALA dirintis di awal pandemi. Setelah menyiapkan KALA Coffee & Society selama satu tahun, Astrid dan Ibnu berencana buka pertengahan Maret 2020 lalu—tepat ketika kemudian pembatasan social diberlakukan. Awalnya sempat berpikir untuk menunda pembukaan, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap lanjut. “Sedih juga sih kalau inget, tetapi bagimana, ya, sudah ready semua,” kenang Ibnu.

Mereka memutuskan bahwa KALA harus beradaptasi mengikuti pasar. Awalnya dikonsep menyuguhkan sajian kopi otentik, Astrid dan Ibnu menyadari bahwa kebanyakan pelanggan awal KALA Coffee & Society adalah perempuan yang justru kurang menyukai kopi yang kuat. “Akhirnya kami bikin es kopi susu yang very smooth aja, yang nyaris seperti tidak ada kopinya,” kelakar Astrid.

Produk tersebut, KALA In Time, ternyata menjadi andalan mereka. Berbeda dari kopi susu lain, KALA In Time adalah kopi susu yang creamy dan smooth. KALA in Time turut dijual dalam botol literan, salah satu yang pertama di Yogyakarta pada awal pandemi. Tidak dinyana, ternyata produk tersebut populer di antara target pasar feminin yang mereka tuju. “Itu yang kami bentuk—cewek banget,” sahut Ibnu.

Kemampuan menangkap impresi pasar ini yang membantu KALA dalam pemasaran produk mereka. Menarik bahwa mereka jarang melakukan aktivitas pemasaran seperti opening besar-besaran. Alih-alih, Astrid dan Ibnu memilih untuk langsung menguji produk mereka ke teman-teman yang mewakili pasar mereka dan menangkap respon yang diberikan. “Di KALA, kami percaya kalau produk itu nomor satu,” Tidak perlu woro-woro besar di depan,” jelas Astrid. “Kami lebih mencari honest review dulu, bukan sesuatu yang kami bentuk. Setelah terbentuk, itu yang kami goreng terus,” sambung Ibnu.

KALA Countryside pun tumbuh dari strategi yang sama. Astrid dan Ibnu memerhatikan bahwa sejumlah pelanggan regular KALA Coffee & Society justru berasal dari segmen keluarga. Meskipun mereka memberikan respon positif terhadap menu yang ditawarkan, konsep kafe yang mungil kurang mengakomodasi kebutuhan ruang bagi keluarga. Setelah memerhatikan segmen tersebut makin terbentuk kuat sebagai salah satu customer base mereka, setahun kemudian Astrid dan Ibnu mengembangkan KALA Countryside untuk expand ke segmen keluarga.

“Tempat baru pasti menarik orang banget. Tetapi, yang lebih penting adalah mengenali apa yang retain mereka? Misalkan, servis, produk, experience yang didapat customer ketika pulang dari sini pertama kali,” jelas Astrid. “It’s a learning curve.”

Mempercepat Belanja Dapur

Dengan pertumbuhan yang demikian pesat membuat KALA turut memperbaiki sistem dapur mereka agar dapat memenuhi permintaan konsumen. Salah satu kendala yang dihadapi KALA sebelumnya adalah kesulitan menghubungi supplier saat belanja kebutuhan dapur. Aplikasi komunikasi yang biasa digunakan ternyata tidak menjamin supplier merespon dengan tepat waktu.

“Sebelumnya kami manual menghubungi pihak sales supplier. Tetapi, kadang pihak supplier lama membalas. Misalkan kami order pagi, baru jam sebelas siang dibalas,” jelas Oki, Purchasing Manager KALA Countryside.

Pada saat itulah kemudian KALA Countryside kenal dengan aplikasi DamoGO. Melalui tim sales DamoGO, Oki dijelaskan bahwa aplikasi DamoGO membantu komunikasi lebih cepat dan memiliki customer service yang responsif. Oki akhirnya memutuskan untuk mencoba aplikasi DamoGO. Ternyata benar—pesanannya diterima dan direspon lebih cepat oleh supplier. “Dari order pertama ternyata memang lebih cepat direspon lewat aplikasi. Jadi, kami beralih ke DamoGO,” ujarnya.

Ternyata, bukan kecepatan saja yang mendorong Oki beralih ke aplikasi DamoGO. “Aplikasinya memudahkan,” tambahnya. “Di katalog supplier, kami bisa langsung memilih bahan-bahan yang kami pakai. Kami bisa menambahkan item yang kami pakai saja. Sedangkan di aplikasi yang lain, kami harus scroll sampai bawah.”

Kemudahan menggunakan aplikasi DamoGO ini membantu Oki dalam mempercepat belanja dapur. “Setelah pakai DamoGO jadi lebih cepat,” Oki mengiyakan. “Misalkan acc pembayaran, lebih cepat lewat aplikasi DamoGO. Kita kirim bukti transfer sudah langsung terproses. Sedangkan apabila chat biasa, besok-besok masih ditagih biasanya, mungkin karena tertumpuk chat-nya.”

Matahari sore menggelincir cepat menjadi senjakala, tetapi hari masih begitu cerah di KALA, seakan-akan mengamini renjana Astrid dan Ibnu dalam memanjakan indera pengunjungnya, “Kami pengen banget selalu make people happy.”

Ikuti kami

InfoAboutCareersFAQ

Hubungi kami

Jalan Raya Tajem No 32, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta, Indonesia 55281
cs@damogo.co+62 812 2600 4100

Download DamoGO app

Google play badgeApp store badge

© Copyright 2021 PT. Solusi Cerdas Nusantara. All Rights Reserved